Jenis cairan infus dan fungsinya: kristaloid, koloid, dan yang umum dipakai

Cairan infus bukan satu benda. Yang tertulis di kantongnya menandakan isi yang berbeda-beda, dan perbedaan itu bukan soal merek melainkan soal ke mana cairannya pergi setelah masuk ke pembuluh darah, serta apa yang dibawanya.
Halaman ini membahas pengelompokan besarnya lebih dulu, lalu jenis-jenis yang paling sering ditemui satu per satu.
Dua kelompok besar: kristaloid dan koloid
Kristaloid berisi air dan zat terlarut berukuran kecil, terutama elektrolit. Karena molekulnya kecil, cairannya bisa berpindah keluar dari pembuluh darah menuju ruang di antara sel dengan relatif mudah. Ini kelompok yang paling banyak dipakai, dan alasannya praktis: tersedia luas, biayanya rendah, dan risiko reaksi alerginya kecil.
Koloid berisi molekul berukuran besar seperti pati atau protein. Karena molekulnya besar, ia cenderung bertahan lebih lama di dalam pembuluh darah. Pemakaiannya lebih terbatas dan pemilihannya lebih ketat.
Untuk sebagian besar keperluan sehari-hari, yang ditemui adalah kristaloid, dan tiga bagian berikutnya membahas yang paling sering dijumpai.
Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: pengelompokan ini bukan urutan mutu. Koloid tidak lebih baik daripada kristaloid hanya karena lebih mahal dan lebih jarang dipakai, dan kristaloid tidak lebih rendah karena tersedia di mana-mana. Keduanya menjawab keperluan yang berbeda.
Tonisitas: kenapa cairan tidak berhenti di tempat yang sama
Selain isinya, yang membedakan cairan infus adalah kepekatannya dibanding darah. Sifat ini disebut tonisitas, dan ia menentukan ke mana cairannya bergerak setelah masuk.
Cairan isotonis punya kepekatan yang mendekati darah, sehingga tidak menarik air masuk atau keluar sel secara berarti. Cairannya sebagian besar tinggal di ruang di luar sel, dan karena itu kelompok ini yang paling sering dipakai ketika tujuannya menambah volume cairan.
Cairan hipotonis lebih encer daripada darah, sehingga air cenderung bergerak masuk ke dalam sel. Pemakaiannya lebih terbatas dan perlu pertimbangan khusus, terutama pada keadaan yang berkaitan dengan pembengkakan jaringan.
Cairan hipertonis lebih pekat daripada darah, sehingga cenderung menarik air keluar dari sel menuju pembuluh darah. Pemakaiannya paling terbatas di antara ketiganya dan menuntut pemantauan yang lebih ketat.
Tiga bagian berikutnya membahas jenis yang paling sering ditemui, dan pengelompokan tonisitas di atas berguna untuk memahami kenapa perilakunya berbeda meski sama-sama kristaloid.
Ringer Laktat (RL)
Ringer Laktat adalah kristaloid yang komposisinya dibuat mendekati komposisi cairan tubuh. Menurut StatPearls, isinya natrium 130 mmol/L, klorida 109 mmol/L, kalium 4,0 mmol/L, kalsium 1,5 mmol/L, dan laktat 28 mmol/L, dengan osmolaritas 273 mOsm/L.
Kandungan laktatnya diubah tubuh menjadi bikarbonat, sehingga cairan ini tidak menambah beban asam sebanyak cairan yang kandungan kloridanya lebih tinggi.
Yang perlu diperhatikan: RL mengandung kalium dan kalsium, sehingga pemakaiannya perlu pertimbangan pada keadaan tertentu, termasuk ketika kadar kalium sudah tinggi. Kandungan kalsiumnya juga membuatnya tidak selalu bisa diberikan bersamaan dengan sediaan tertentu lewat satu jalur.
NaCl 0,9% (normal saline)
NaCl 0,9% adalah larutan natrium klorida dalam air, dan merupakan kristaloid yang paling banyak dipakai di dunia. Menurut StatPearls, isinya natrium 154 mmol/L dan klorida 154 mmol/L, dengan osmolaritas 308 mOsm/L.
Isinya hanya dua zat, tanpa kalium, kalsium, maupun laktat. Kesederhanaan itu yang membuatnya sering dipilih ketika yang dibutuhkan hanya penambahan cairan dan natrium tanpa membawa elektrolit lain.
Yang perlu diperhatikan: kadar kloridanya lebih tinggi dibanding kadar klorida dalam darah, sehingga pemberian dalam jumlah besar berkaitan dengan pergeseran keseimbangan asam basa. Ini pertimbangan yang muncul pada pemberian volume besar, bukan pada pemakaian rutin volume kecil.
Dekstrosa
Larutan dekstrosa berisi gula sederhana yang dilarutkan dalam air, dan yang paling sering ditemui adalah dekstrosa 5%. Setelah masuk, dekstrosanya dipakai tubuh, sehingga yang tersisa pada dasarnya air.
Karena itu perilakunya di dalam tubuh berbeda dari RL maupun NaCl: cairannya menyebar lebih luas, tidak bertahan di pembuluh darah sebanyak dua yang lain.
Yang perlu diperhatikan: karena mengandung gula, pemberiannya perlu pertimbangan pada keadaan yang berkaitan dengan kadar gula darah, dan pemantauannya berbeda dari cairan tanpa gula.
Sediaan dekstrosa juga tersedia dalam kadar selain 5%, dan kadar yang berbeda punya tonisitas serta pemakaian yang berbeda pula. Angka pada namanya bukan sekadar penanda merek, jadi membacanya sampai angkanya adalah bagian dari memeriksa, bukan kerewelan.
Koloid, dan kenapa lebih jarang ditemui
Koloid berisi molekul besar yang tidak mudah keluar dari pembuluh darah, sehingga secara teori bisa menambah volume di dalam pembuluh dengan jumlah cairan yang lebih sedikit dibanding kristaloid.
Kelompok ini mencakup sediaan berbahan pati, gelatin, dan albumin. Harganya jauh lebih tinggi daripada kristaloid, ketersediaannya lebih terbatas, dan pemilihannya lebih ketat karena kemungkinan reaksi serta pertimbangan lain yang menyertainya.
Karena itu di praktik sehari-hari yang jauh lebih sering ditemui adalah kristaloid, dan koloid dipakai pada keadaan tertentu berdasarkan pertimbangan yang spesifik. Untuk keperluan belajar, memahami kristaloid dengan baik jauh lebih berguna daripada menghafal daftar koloid.
Kenapa tidak ada satu cairan untuk semua keadaan
Perbedaan komposisi di atas menentukan tiga hal sekaligus: ke mana cairannya pergi setelah masuk, elektrolit apa yang ikut dibawa, dan pengaruhnya terhadap keseimbangan asam basa.
Karena itu memilih cairan bukan soal mana yang paling bagus, melainkan mana yang cocok untuk keadaan yang sedang dihadapi. Cairan yang tepat pada satu keadaan bisa jadi pilihan yang keliru pada keadaan lain, dan itu bukan kelemahan cairannya.
Kenapa pemilihannya ditentukan tenaga medis
Pemilihan cairan mempertimbangkan kadar elektrolit, fungsi ginjal dan jantung, keseimbangan asam basa, obat yang sedang diberikan, dan alasan pemberiannya. Sebagian pertimbangan itu hanya terlihat dari hasil pemeriksaan, bukan dari keluhan.
Ini juga alasan kenapa permintaan cairan tertentu dari pasien atau keluarga tidak bisa langsung dituruti. Bukan karena permintaannya tidak masuk akal, tapi karena pertimbangan yang menentukan pilihannya berada di luar apa yang bisa dinilai dari luar.
Berlaku juga sebaliknya: tenaga medis yang mengganti jenis cairan tanpa alasan yang bisa dijelaskan sedang melewatkan langkah yang penting.
Di mana cairan pembawa vitamin drip berada
Pada layanan vitamin drip, yang berada di dalam kantong sebagian besar adalah kristaloid, umumnya larutan garam fisiologis, dengan vitamin dan mineral ditambahkan ke dalamnya. Jadi cairan dasarnya termasuk kelompok yang sama dengan yang dibahas di atas.
Perbedaannya ada pada tujuan dan pengaturannya. Pemberian cairan di rumah sakit mengikuti perhitungan kebutuhan dan pemantauan yang ketat; pemberian pada layanan vitamin drip volumenya kecil, waktunya pendek, dan ditujukan untuk mengembalikan cairan serta menopang asupan pada orang yang keadaannya stabil.
Perlu disebut apa adanya: bagian terbesar dari isi kantong pada layanan seperti itu adalah cairannya sendiri, bukan vitaminnya. Pada tubuh yang memang sedang kekurangan cairan, justru bagian itu yang paling terasa.
Kesalahan yang sering muncul saat mempelajarinya
Menganggap nama yang mirip berarti isi yang mirip. NaCl 0,9% dan NaCl 3% sama-sama larutan garam, tapi tonisitas dan pemakaiannya berbeda jauh. Angka kadarnya bagian dari namanya, bukan keterangan tambahan.
Menghafal komposisi tanpa memahami akibatnya. Mengetahui bahwa RL mengandung kalium hanya berguna kalau ikut dipahami kenapa hal itu jadi pertimbangan pada keadaan tertentu.
Menyamakan dekstrosa dengan cairan penambah volume. Karena gulanya dipakai tubuh dan yang tersisa pada dasarnya air, perilakunya berbeda dari cairan yang membawa natrium.
Dan menganggap satu jenis cairan lebih unggul secara mutlak. Yang menentukan bukan cairannya, melainkan kecocokannya dengan keadaan yang sedang dihadapi.
Yang perlu diperiksa sebelum cairan diberikan
Cocokkan nama dan kadar pada label kantong dengan yang tertulis di instruksi. Nama yang mirip dengan kadar berbeda adalah salah satu sumber kekeliruan yang paling sering.
Periksa tanggal kedaluwarsa, kejernihan cairan, dan keutuhan kantongnya. Cairan yang keruh, berubah warna, mengandung partikel, atau kantongnya bocor tidak dipakai.
Periksa juga apakah cairan itu bisa diberikan bersamaan dengan obat yang sedang berjalan di jalur yang sama, karena tidak semua sediaan cocok dicampur.
Halaman ini disusun tim Recovera, layanan terapi vitamin drip yang datang ke lokasi di area Jabodetabek. Protokol medis layanan kami diawasi dr. Ahmad Fauzan, M.Ked (Cardio), Sp.JP dan dr. Cut Hafiah Halidha, M.Gizi, SpGK.
Pertanyaan yang sering ditanya
Apa saja jenis cairan infus?+
Secara besar dibagi dua: kristaloid yang berisi air dan elektrolit berukuran kecil, dan koloid yang berisi molekul besar seperti pati atau protein. Yang paling sering ditemui adalah kristaloid, terutama Ringer Laktat, NaCl 0,9%, dan larutan dekstrosa.
Infus RL adalah cairan apa?+
Ringer Laktat adalah kristaloid yang komposisinya dibuat mendekati cairan tubuh. Menurut StatPearls isinya natrium 130 mmol/L, klorida 109 mmol/L, kalium 4,0 mmol/L, kalsium 1,5 mmol/L, dan laktat 28 mmol/L, dengan osmolaritas 273 mOsm/L.
Apa bedanya RL dan NaCl 0,9%?+
NaCl 0,9% hanya berisi natrium dan klorida, masing-masing 154 mmol/L. RL membawa kalium, kalsium, dan laktat selain natrium dan klorida, dengan kadar klorida yang lebih rendah. Perbedaan itu yang membuat keduanya tidak selalu bisa saling menggantikan.
Apa fungsi cairan infus?+
Menggantikan cairan yang hilang, membawa elektrolit, menjadi jalur pemberian obat, dan pada keadaan tertentu menopang asupan ketika saluran cerna tidak bisa diandalkan. Fungsi mana yang menjadi tujuan menentukan jenis mana yang dipilih.
Siapa yang menentukan jenis cairan yang dipakai?+
Tenaga medis, berdasarkan kadar elektrolit, fungsi ginjal dan jantung, keseimbangan asam basa, obat yang sedang diberikan, dan alasan pemberiannya. Sebagian pertimbangan itu hanya terlihat dari hasil pemeriksaan, bukan dari keluhan.
Apa yang perlu diperiksa sebelum cairan dipasang?+
Kecocokan nama dan kadar pada label dengan instruksi, tanggal kedaluwarsa, kejernihan cairan, keutuhan kantong, dan kecocokannya dengan obat yang sedang berjalan di jalur yang sama. Cairan yang keruh, berubah warna, atau kantongnya bocor tidak dipakai.
Sumber
- Crystalloid Solutions in Intravenous Fluid Therapy — StatPearls Publishing, via NCBI Bookshelf (NIH)


